Halo para petualang dan pencinta sejarah!
Kalau kamu bosan dengan destinasi wisata yang itu-itu saja dan ingin merasakan sensasi petualangan nyata yang dibalut misteri masa lalu, ada satu tempat tersembunyi di Jawa Timur yang wajib masuk bucket list kamu. Namanya Candi Kendalisodo (atau sering juga disebut Candi Kendalisada).
Bukan sekadar tumpukan batu biasa, candi ini sering dijuluki sebagai masterpiece atau mahakarya dari sekian banyak situs purbakala yang tersebar di kawasan Gunung Penanggungan, Mojokerto. Penasaran kenapa tempat ini begitu spesial? Yuk, simak ulasannya!
Berada di Ketinggian, Menempel pada Tebing Batu
Berbeda dengan candi-candi besar di dataran rendah seperti Candi Tikus atau Candi Bajang Ratu yang megah dan mudah diakses, Candi Kendalisodo menuntut usaha lebih. Situs ini bertengger cantik di lereng Gunung Bekel (anak gunung dari kompleks Gunung Penanggungan) pada ketinggian lebih dari 1.000 mdpl.
Struktur Punden Berundak Candi Kendalisodo, buatan AI
Struktur Punden Berundak Candi Kendalisodo. Sumber: iNews Surabaya
Arsitekturnya mengadopsi bentuk punden berundak, sebuah gaya bangunan suci asli Nusantara yang kembali populer pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Bangunannya ramping, bertingkat-tingkat dengan tangga lurus tepat di bagian tengah menuju altar utama di puncaknya. Yang membuatnya sangat eksotis adalah letaknya yang bersandar langsung pada dinding tebing batu raksasa.
Daya Tarik: Relief Cerita Panji dan Gua Pertapaan
Ada dua hal utama yang membuat para pendaki dan arkeolog jatuh cinta setengah mati dengan Candi Kendalisodo:
Relief Cerita Panji yang Detail: Hampir seluruh dinding teras candi dipenuhi oleh pahatan relief yang sangat halus. Relief ini menceritakan kisah petualangan dan romansa Raden Panji (Inu Kertapati) dengan Galuh Candra Kirana. Selain itu, ada juga fragmen cerita Arjunawiwaha (saat Arjuna bertapa dan digoda para bidadari).
Gua Pertapaan Alami: Tepat di samping bangunan candi, terdapat sebuah ceruk atau gua kecil yang dulunya digunakan oleh para resi atau kesatria untuk mengasingkan diri (bertapa). Di dalam gua ini juga terdapat pahatan relief fabel dan kisah Bima Suci saat mengarungi samudra mencari air kehidupan (perwitasari).
Tahukah Kamu? Gunung Penanggungan kuno dikenal dengan nama Gunung Pawitra yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu-Buddha masa Majapahit. Berdoa atau bertapa di tempat tinggi seperti Kendalisodo dipercaya membuat manusia lebih dekat dengan dunia para dewa dan roh leluhur.
Jalur dan Estimasi Pendakian
Untuk bisa menikmati keindahan spiritual dan alam di candi ini, kamu harus berjalan kaki alias trekking. Jalur yang paling populer dan ramah untuk dilalui adalah melalui Jalur Seloliman (Pertapaan Jolotundo) atau via Balekambang.
Aspek Estimasi / Keterangan
Waktu Tempuh Kurang lebih 2 hingga 2,5 jam perjalanan santai dari pos perizinan.
Karakter Jalur Jalan setapak tanah, bonus melewati sungai berbatu yang kering, dan beberapa tanjakan curam menjelang situs.
Pemandangan Sepanjang jalan kamu akan ditemani hutan sekunder, semak belukar, udara bersih, dan bonus pemandangan kota Ngoro dari ketinggian.
Tips Penting Sebelum Berangkat
Fisik Harus Prima: Jalurnya lumayan menguras keringat. Pastikan kamu memakai sepatu gunung atau sandal outdoor dengan cengkeraman yang baik.
Bawa Air Minum Cukup: Tidak ada warung di atas objek situs. Jaga tubuhmu tetap terhidrasi.
Hormati Aturan Setempat: Karena ini adalah tempat yang disucikan dan bernilai sejarah tinggi, jangan sekali-kali mencoret batu (vandal), merusak relief, atau membuang sampah sembarangan. Pahatan relief di sini sangat tipis dan rentan aus, jadi mari kita jaga bersama.
Candi Kendalisodo adalah bukti nyata bahwa keindahan sejarah tidak selalu berada di tempat yang mudah dijangkau. Menatap matahari terbenam dari pelataran candi ini sambil merasakan embusan angin gunung adalah sebuah kemewahan yang tidak akan kamu lupakan.
Jadi, kapan kamu mau mengemas ranselmu dan mendaki ke sini?
Sampai jumpa di artikel petualangan berikutnya! Jangan lupa tinggalkan komentar di bawah ya!




